Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Henry Panjaitan: “Menjadi Kewajiban Kami Untuk Membawa Mandiri Menjadi Global Financial Institution”
JAKARTA – Pagi itu, sebuah keputusan penting diambil di Menara Mandiri. Nama Henry Panjaitan resmi diumumkan sebagai Wakil Direktur Utama Bank Mandiri, menandai awal babak baru bagi bank terbesar di Indonesia. Bagi banyak orang di ruangan itu, keputusan ini bukan sekadar penunjukan jabatan, melainkan langkah strategis untuk membawa Mandiri menembus persaingan perbankan nasional dan regional.
Pria yang telah mengarungi tiga dekade dunia perbankan ini adalah sosok yang tepat untuk mendampingi nakhoda utama, Riduan. Henry datang berbekal rekam jejak di sektor keuangan yang panjang, memiliki jaringan internasional, dan visi yang menjanjikan—kombinasi yang diyakini akan mendorong Bank Mandiri menjadi global player.
Henry lahir di Jakarta pada 7 Juli 1969, di tengah denyut kota yang tak pernah tidur—tempat ambisi, perdagangan, dan cita-cita saling berkejaran. Ia menimba ilmu di Universitas Padjadjaran (Unpad), meraih gelar Sarjana Ekonomi (Manajemen) pada 1991.
Tak berhenti di situ, ia berlayar lebih jauh untuk menimba pengetahuan di University of New South Wales, Australia, dan menggenggam gelar Master of Commerce (Banking) pada 2002, sebelum kembali ke tanah air untuk menuntaskan Master Manajemen (Keuangan) di Universitas Indonesia (UI) pada 2003. Perpaduan pendidikan Timur–Barat membentuknya menjadi sosok yang luwes, mampu menimbang angka sekaligus arah.
Kariernya dimulai pada 1993 di BNI sebagai analis kredit. Seperti kapal layar yang menemukan angin tepat, ia melaju ke berbagai posisi penting: Deputy GM Operasi Cabang Hong Kong pada 2010, Head of Business & Banking Wilayah Jakarta Senayan pada 2015, hingga Direktur Treasury & International. Di Hong Kong, ia belajar membaca arah angin pasar global, memahami arus likuiditas antarnegara, dan mengasah insting manajemen risiko.
Tahun 2022, ia berpindah ke PT Jamkrindo sebagai Direktur Bisnis Penjaminan, menyalakan mercusuar bagi sektor produktif, memperluas skema penjaminan kredit agar UMKM dan korporasi mendapat ruang tumbuh. Ia memahami denyut nadi ekonomi riil, sebuah bekal emas untuk misinya di Bank Mandiri.
Salah satu keunggulan yang membuat Henry menonjol adalah kemampuannya membangun kepercayaan investor internasional. Jaringan global yang ia rajut sejak masa tugas di luar negeri memberinya akses langsung pada para pemimpin dana investasi, sovereign wealth fund, hingga institusi keuangan multilateral. Dalam berbagai forum, ia piawai mempresentasikan potensi pertumbuhan Indonesia, mengemas visi Bank Mandiri sebagai mitra strategis yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga berkontribusi nyata pada pembangunan ekonomi. Keahlian ini diyakini akan membuka pintu masuk modal asing yang memperkuat permodalan bank, sekaligus menjadi bahan bakar bagi ekspansi agresif ke pasar ASEAN dan kawasan lainnya.
Dukungan terhadap Hendry datang dari berbagai penjuru. Randi Wibowo, Deputi Direktur Lembaga Penjaminan Pembiayaan UMKM, menegaskan bahwa Henry memahami denyut sektor riil, terutama UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi, sehingga strateginya akan memperkokoh pembiayaan produktif Mandiri. Dewi Paramita, analis senior ASEAN Finance Institute, melihat jejak internasionalnya sebagai bukti kemampuan membangun jejaring lintas batas, modal penting di panggung ASEAN. Bahkan seorang CEO bank komersial Malaysia menyebut Henry selalu datang dengan data yang kuat dan visi panjang, sehingga setiap kerja sama dengannya berorientasi pada hasil.
“Sebagai bank terbesar di Indonesia, dengan layanan finansial yang komplit, sudah menjadi kewajiban kami sebagai mandirian, untuk bahu-membahu menjadikan Bank Mandiri sebagai global financial institution,” ucap Henry.
Di bawah duet Riduan–Henry, Bank Mandiri menargetkan pertumbuhan pengguna digital banking yang tinggi dan berkelanjutan, penurunan biaya, dan ekspansi ke regional serta joint venture fintech. Untuk mendukung itu, Mandiri Digital Academy disiapkan sebagai dermaga pembelajaran, mencetak talenta digital yang siap mengarungi tantangan teknologi.
Henry Panjaitan bukan hanya pengisi kursi strategis. Ia adalah nahkoda baru yang mengerti peta, arah angin, dan ombak yang akan dihadapi. Pengalaman yang melintasi batas geografis dan sektoral menjadi kompas yang akan memandu Bank Mandiri menembus pasar yang lebih luas, sekaligus menjaga akarnya di tanah air. (****)
